Allah

Senin, 04 Februari 2019

๐Ÿ’ฅ Harta Kita yang Sebenarnya dan Renungan Bagi Penumpuk Harta karena Tamak ๐Ÿ’ฅ

 
Saudaraku
Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja, selebihnya memang harta kita tetapi hakikatnya bukan harta kita karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja
.
Tiga harta sebenarnya:
.
1. Makanan yang kita makan
Makanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati
Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja
.
2. Pakaian yang kita pakai
Termasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan
.
3. Sedekah
Ini adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di dunia
.
Selebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta:
.
- Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja
.
-Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan
.
-Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat saja
.
“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu
begitu saja? ” (HR. Muslim)
.
Baca Selengkapnya ุง:

https://muslimafiyah.com/harta-kita-yang-sebenarnya-dan-renungkan-bagi-penumpuk-harta-karena-tamak.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen

⛔ Ingin Punya Anak Penghapal Al-Quran ⛔

“Terlihat sangat bangga orang tua yang anaknya sukses ketika wisuda, apalagi sang anak mendapatkan nilai tertinggi. Ternyata ada yang lebih membanggakan lagi, yaitu di hari kiamat, orang tua dinaikkan derajatnya dan akan dipakaikan mahkota kemuliaan dari cahaya karena anaknya menghapalkan Al-Quran”
.
Kita sangat ingin, bercita-cita dan bersungguh-sungguh menghapalkan Al-Quran. Terlalu banyak keutamaan bagi mereka yang menghapal dan mempelajari Al-Quran, derajat kita di surga dinaikkan sesuai dengan hapalan Al-Quran kita

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

ูŠُู‚َุงู„ُ ู„ِุตَุงุญِุจِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุงู‚ْุฑَุฃْ ูˆَุงุฑْุชَู‚ِ ูˆَุฑَุชِّู„ْ ูƒَู…َุง ูƒُู†ْุชَ ุชُุฑَุชِّู„ُ ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูَุฅِู†َّ ู…َู†ْุฒِู„َูƒَ ุนِู†ْุฏَ ุขุฎِุฑِ ุขูŠَุฉٍ ุชَู‚ْุฑَุคُู‡َุง

 “Akan dikatakan kepada shahibul qur’an penghapal : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir (seberapa banyak) yang engkau hapal” (HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Tidak hanya kita yang berusaha menghapalkan Al-Quran, kita usahakan juga anak-anak kita menghapalkan Al-Quran. Kita sangat berharap ada satu saja di antara anak kita yang menghapal Al-Quran, apabila tidak bisa semua bisa menghapalkan Al-Quran. Tentu kita berdoa dengan harapan yang tinggi yaitu agar semua anak kita bisa menghapalkan Al-Quran.

Keutamaan apabila anak kita menghapalkan Al-Quran adalah akan meningkatkan derajat orang tuanya di surga, kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya sebagai bentuk kemuliaan karena telah mendidik anak yang menghapalkan Al-Quran.

Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

ู…ู† ู‚ุฑุฃ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆุชุนู„َّู… ูˆุนู…ู„ ุจู‡ ุฃُู„ุจุณ ูˆุงู„ุฏุงู‡ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ุชุงุฌุงً ู…ู† ู†ูˆุฑ ุถูˆุคู‡ ู…ุซู„ ุถูˆุก ุงู„ุดู…ุณ ، ูˆูŠูƒุณู‰ ูˆุงู„ุฏุงู‡ ุญู„ุชูŠู† ู„ุง ุชู‚ูˆู… ู„ู‡ู…ุง ุงู„ุฏู†ูŠุง ููŠู‚ูˆู„ุงู† : ุจู… ูƒุณูŠู†ุง ู‡ุฐุง ؟ ููŠู‚ุงู„ : ุจุฃุฎุฐ ูˆู„ุฏูƒู…ุง ุงู„ู‚ุฑุขู†

“Barangsiapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani)

Semoga anak-anak kita kelak menghapalkan Al-Quran, kegiatan mulia ini tidak akan menghambat sedikitpun untuk kegiatan lainnya. Banyak pedagang yang hapal Al-Quran, tentara menghapalkan Al-Quran, dokter menghapalkan Al-Quran dan pejabat yang menghapalkan Al-Quran.

Allah akan menaikkan derajat orang yang menghapalkan Al-Quran, setahu kami tidak ada penghapal Al-Quran yang hidupnya terlantar (mengenaskan) selama hidup di dunia ini, bahkan kedudukan mereka mulia dan diangkat oleh Allah di masyarakat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallampernah bersabda,

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฑْูَุนُ ุจِู‡َุฐَุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ุฃَู‚ْูˆَุงู…ًุง ูˆَูŠَุถَุนُ ุจِู‡ِ ุขุฎَุฑِูŠู†َ

“Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.” (HR. Ahmad 237 & Muslim 1934)

Semoga kita bisa menghapalkan Al-Quran dan memilikianak yang menghapalkan Al-Quran. Aamiin.

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

https://muslimafiyah.com/ingin-punya-anak-penghapal-al-quran.html

__
Follow akun (klik):
kontakk.com/@raehanulbahraen
kontakk.com/@raehanulbahraen

๐ŸŒˆ WAKTU BERKAH DI PAGI HARI ๐ŸŒˆ

‌┏▪▪━━━━━━━━┓
        Faidah pagi
┗━━━━━━━━▪▪┛



Jangan sampai terlewatkan.

Dari Shahabat Shokher Al-Ghomidi -rodhiyallahu ‘anhu- , Bahwasanya Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda:

«ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจَุงุฑِูƒْ ู„ِุฃُู…َّุชِูŠ ูِูŠ ุจُูƒُูˆุฑِู‡َุง»

”Ya Allah berkahilah untuk umatku awal waktu pagi mereka.”

 [ HR. Ahmad no. 15443, 15557, 15558, 19430, 19479, 19480, 19481, Abu Dawud no. 2606, At-Tirmidzi no.1212, Ibnu Majah no. 2236, 2238. ]
Dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani -rohimahullah- dalam kitab “Shohih Al-Jami’” no. 1300, “Shohih Abi Dawud” no. 2345, “Al-Misykah” no. 3908.

 Hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Ali, Ibnu Mas’ud, Buroidah, Anas, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Jabir rodhiyallahu ‘anhum. [ Lihat Sunan At-Tirmidzi no. 1212. ]

Berkah atau barokah adalah kebaikan yang banyak dan bersifat tetap. 
[ Syarah Shohih Muslim (1/225) & (4/116); An-Nawawi & Tafsir Al-Qurtubi (4/139). ]

 Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rohimahullah- menjelaskan;

”Bahwa yang namanya ‘Siang hari’ adalah waktu untuk mencari penghidupan. Sebagaimana Allah –Ta’ala- berfirman (artinya):

”Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” [ An-Naba`: 11 ]

 Apabila seseorang itu memanfaatkannya sejak awal waktu, maka yang demikian itu akan menjadikannya berkah.
Dan ini suatu perkara yang bisa kita saksikan, tatkala seseorang melakukan suatu pekerjaan di awal waktu pagi, maka ia akan mendapatkan berkah pada pekerjaannya.

 Hanya saja, yang sangat memprihatinkan; kebanyakan dari kita di masa ini tidur di awal waktu pagi, tidak bangun dari tidurnya kecuali setelah datang waktu Dhuha.
Sehingga terlewatkan darinya awal waktu pagi yang penuh berkah.  [ Syarah Riyadhis Sholihin (4/582) ]

Wallahul Muwaffiq (AH)


Telegram Channel IslamDiaries
https://t.me/islamdiaries

๐ŸŒ Sibuk BEKERJA dan LIBURAN, Belajar ILMU AGAMA Kapan?!


Terkadang kita terlalu banyak alasan tidak mau belajar agama dan menghadiri majelis ilmu

Hari kerja sibuk dengan pekerjaan mencari harta. Hari libur sibuk dengan keluarga untuk liburan

Ucapan semisal ini ada dalam AL-Quran, Allah berfirman: “Harta dan keluarga kami telah menghalangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami!” (Al-Fath:11)

Saudaraku
Di zaman ini salah satu cara berjihad adalah dengan belajar

Belajar agama untuk diri sendiri, keluarga dan agar menjadi diri yang bermanfaat bagi masyarakat

Saudaraku
Apabila kita ingin lulus ujian sekolah atau ujian kerja, tentu harus belajar

Sesungguhnya kehidupan ini adalah ujian, harus dihadapi dengan ilmu dan belajar

Setelah kematian pun ada ujiannya salah satunya adalah “fitnah kubur”

“Fitnah kubur” adalah pertanyaan dalam kubur yang jadi penentu kehidupan kita selama yang abadi

Saudaraku
Apabila anda seorang ayah pimpinan keluarga, ajaklah keluarga anda untuk belajar agama dan menghadiri majelis ilmu

Bagaimana bisa menjadi nahkoda bahtera rumah tangga menuju surga, sedangkan jalan ke surga saja tidak tahu

Jalan menuju surga tersebut hanya diketahui dengan belajar dan menuntut ilmu

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.”( HR: Muslim)

Apabila kita sayang kepada istri, anak dan keluarga, maka ajak mereka kembali belajar agama agar masuk surga bersama

Allah berfirman, “(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)

Apakah kita hanya ingin keluarga bertahan di dunia saja? Setelah terpisah dengan kematian kemudian selesai?

Tentu tidak, sekeluarga akan masuk surga bersama dan berkumpul kembali di surga Allah yang tertinggi

๐Ÿ–‹Penyusun: Ustadz Raehanul Bahraen
๐ŸŒArtikel: www.muslimafiyah.com
( @putri.saalsabil )
#fiqihmuslimah #fiqihwanita_

๐ŸŒˆ Tata Cara Mengqadha Shalat Yang Terlewat ๐ŸŒˆ

Shalat lima waktu adalah kewajiban setiap Muslim, bahkan merupakan rukun Islam. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim yang mukallaf (sudah terkena beban syariat) meninggalkan shalat lima waktu dan tidak boleh melalaikan shalat hingga keluar dari waktunya. Namun apa yang dilakukan seorang Muslim jika ia meninggalkan shalat hingga keluar dari waktunya? Kita simak pembahasan ringan berikut ini.

Hukum mengqadha shalat yang terlewat
Mengqadha shalat artinya mengerjakan shalat di luar waktu sebenarnya untuk menggantikan shalat yang terlewat. Apakah wajib mengqadha shalat? Para ulama merinci menjadi dua keadaan:

1. Tidak sengaja meninggalkan shalat
Dalam keadaan tidak sengaja meninggalkan shalat, seperti karena ketiduran, lupa, pingsan, dan lainnya, maka para ulama bersepakat bahwa wajib hukumnya mengqadha shalat yang terlewat. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

ู…ู† ู†ุงู… ุนู† ุตู„ุงุฉ ุฃูˆ ู†ุณูŠู‡ุง؛ ูู„ูŠุตู„ู‡ุง ุฅุฐุง ุฐูƒุฑู‡ุง

“barangsiapa yang terlewat shalat karena tidur atau karena lupa, maka ia wajib shalat ketika ingat” HR. Al Bazzar 13/21, shahih).

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjelaskan: “orang yang hilang akalnya karena tidur, atau pingsan atau semisalnya, ia wajib mengqadha shalatnya ketika sadar” (Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/95, Asy Syamilah).

Dan tidak ada dosa baginya jika hal tersebut bukan karena lalai, karena shalat yang dilakukan dalam rangka qadha tersebut merupakan kafarah dari perbuatan meninggalkan shalat tersebut. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ู…َู†ْ ู†َุณِูŠَ ุตَู„َุงุฉً، ุฃَูˆْ ู†َุงู…َ ุนَู†ْู‡َุง، ูَูƒَูَّุงุฑَุชُู‡َุง ุฃَู†ْ ูŠُุตَู„ِّูŠَู‡َุง ุฅِุฐَุง ุฐَูƒَุฑَู‡َุง

“barangsiapa yang lupa shalat, atau terlewat karena tertidur, maka kafarahnya adalah ia kerjakan ketika ia ingat” (HR. Muslim no. 684).

Dari sini juga kita ketahui tidak benar anggapan sebagian masyarakat awam, bahwa jika bangun kesiangan di pagi hari maka tidak perlu shalat shubuh karena sudah lewat waktunya. Ini adalah sebuah kekeliruan!

2. Sengaja meninggalkan shalat
Para ulama berselisih panjang mengenai orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja apakah keluar dari Islam ataukah tidak? Silakan simak artikel “Meninggalkan Shalat Bisa Membuat Kafir” untuk memperluas hal ini.

Dan para ulama juga berselisih pendapat apakah shalatnya wajib diqadha ataukah tidak. Pendapat yang rajih dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan shalatnya tidak wajib di-qadha. Imam Ibnu Hazm Al Andalusi mengatakan:

ูˆَุฃَู…َّุง ู…َู†ْ ุชَุนَู…َّุฏَ ุชَุฑْูƒَ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ุญَุชَّู‰ ุฎَุฑَุฌَ ูˆَู‚ْุชُู‡َุง ูَู‡َุฐَุง ู„َุง ูŠَู‚ْุฏِุฑُ ุนَู„َู‰ ู‚َุถَุงุฆِู‡َุง ุฃَุจَุฏًุง، ูَู„ْูŠُูƒْุซِุฑْ ู…ِู†ْ ูِุนْู„ِ ุงู„ْุฎَูŠْุฑِ ูˆَุตَู„َุงุฉِ ุงู„ุชَّุทَูˆُّุนِ؛ ู„ِูŠُุซْู‚ِู„َ ู…ِูŠุฒَุงู†َู‡ُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ؛ ูˆَู„ْูŠَุชُุจْ ูˆَู„ْูŠَุณْุชَุบْูِุฑْ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ

“adapun orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, maka ia tidak akan bisa mengqadhanya sama sekali. Maka yang ia lakukan adalah memperbanyak perbuatan amalan kebaikan dan shalat sunnah. Untuk meringankan timbangannya di hari kiamat. Dan hendaknya ia bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla” (Al Muhalla, 2/10, Asy Syamilah).

Beliau juga mengatakan:

ุจُุฑْู‡َุงู†ُ ุตِุญَّุฉِ ู‚َูˆْู„ِู†َุง ู‚َูˆْู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุชَุนَุงู„َู‰: {ูَูˆَูŠْู„ٌ ู„ِู„ْู…ُุตَู„ِّูŠู†َ} [ุงู„ู…ุงุนูˆู†: 4] {ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ุนَู†ْ ุตَู„ุงุชِู‡ِู…ْ ุณَุงู‡ُูˆู†َ} [ุงู„ู…ุงุนูˆู†: 5] ูˆู‚َูˆْู„ู‡ ุชَุนَุงู„َู‰: {ูَุฎَู„َูَ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِู‡ِู…ْ ุฎَู„ْูٌ ุฃَุถَุงุนُูˆุง ุงู„ุตَّู„ุงุฉَ ูˆَุงุชَّุจَุนُูˆุง ุงู„ุดَّู‡َูˆَุงุชِ ูَุณَูˆْูَ ูŠَู„ْู‚َูˆْู†َ ุบَูŠًّุง} [ู…ุฑูŠู…: 59] ูَู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุงู„ْุนَุงู…ِุฏُ ู„ِุชَุฑْูƒِ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ู…ُุฏْุฑِูƒًุง ู„َู‡َุง ุจَุนْุฏَ ุฎُุฑُูˆุฌِ ูˆَู‚ْุชِู‡َุง ู„َู…َุง ูƒَุงู†َ ู„َู‡ُ ุงู„ْูˆَูŠْู„ُ، ูˆَู„َุง ู„َู‚ِูŠَ ุงู„ْุบَูŠَّ؛ ูƒَู…َุง ู„َุง ูˆَูŠْู„َ، ูˆَู„َุง ุบَูŠَّ؛ ู„ِู…َู†ْ ุฃَุฎَّุฑَู‡َุง ุฅู„َู‰ ุขุฎَุฑِ ูˆَู‚ْุชِู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠ ูŠَูƒُูˆู†ُ ู…ُุฏْุฑِูƒًุง ู„َู‡َุง. ูˆَุฃَูŠْุถًุง ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุชَุนَุงู„َู‰ ุฌَุนَู„َ ู„ِูƒُู„ِّ ุตَู„َุงุฉِ ูَุฑْุถٍ ูˆَู‚ْุชًุง ู…َุญْุฏُูˆุฏَ ุงู„ุทَّุฑَูَูŠْู†ِ، ูŠَุฏْุฎُู„ُ ูِูŠ ุญِูŠู†ٍ ู…َุญْุฏُูˆุฏٍ؛ ูˆَูŠَุจْุทُู„ُ ูِูŠ ูˆَู‚ْุชٍ ู…َุญْุฏُูˆุฏٍ، ูَู„َุง ูَุฑْู‚َ ุจَูŠْู†َ ู…َู†ْ ุตَู„َّุงู‡َุง ู‚َุจْู„َ ูˆَู‚ْุชِู‡َุง ูˆَุจَูŠْู†َ ู…َู†ْ ุตَู„َّุงู‡َุง ุจَุนْุฏَ ูˆَู‚ْุชِู‡َุง؛ ู„ِุฃَู†َّ ูƒِู„َูŠْู‡ِู…َุง ุตَู„َّู‰ ูِูŠ ุบَูŠْุฑِ ุงู„ْูˆَู‚ْุชِ؛ ูˆَู„َูŠْุณَ ู‡َุฐَุง ู‚ِูŠَุงุณًุง ู„ِุฃَุญَุฏِู‡ِู…َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุขุฎَุฑِ، ุจَู„ْ ู‡ُู…َุง ุณَูˆَุงุกٌ ูِูŠ ุชَุนَุฏِّูŠ ุญُุฏُูˆุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุชَุนَุงู„َู‰، ูˆَู‚َุฏْ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰: {ูˆَู…َู†ْ ูŠَุชَุนَุฏَّ ุญُุฏُูˆุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَู‚َุฏْ ุธَู„َู…َ ู†َูْุณَู‡ُ} [ุงู„ุทู„ุงู‚: 1] . ูˆَุฃَูŠْุถًุง ูَุฅِู†َّ ุงู„ْู‚َุถَุงุกَ ุฅูŠุฌَุงุจُ ุดَุฑْุนٍ، ูˆَุงู„ุดَّุฑْุนُ ู„َุง ูŠَุฌُูˆุฒُ ู„ِุบَูŠْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุชَุนَุงู„َู‰ ุนَู„َู‰ ู„ِุณَุงู†ِ ุฑَุณُูˆู„ِู‡ِ

“bukti benarnya pendapat kami adalah firman Allah Ta’ala: ‘celakalah orang yang shalat. Yaitu orang yang lalai dalam shalatnya‘ (QS. Al Maun: 4-5). Dan juga firman Allah Ta’ala: ‘dan kemudian datanglah setelah mereka orang-orang yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat dan mereka akan menemui kesesatan‘ (QS. Maryam: 59). Andaikan orang yang sengaja melalaikan shalat hingga keluar dari waktunya bisa mengqadha shalatnya, maka ia tidak akan mendapatkan kecelakaan dan kesesatan. Sebagaimana orang yang melalaikan shalat namun tidak keluar dari waktunya tidak mendapatkan kecelakaan dan kesesatan.

Selain itu, Allah Ta’ala telah menjadikan batas awal dan akhir waktu bagi setiap shalat. Yang menjadikannya sah pada batas waktu tertentu dan tidak sah pada batas waktu tertentu. Maka tidak ada bedanya antara shalat sebelum waktunya dengan shalat sesudah habis waktunya. Karena keduanya sama-sama shalat di luar waktunya. Dan ini bukanlah mengqiyaskan satu sama lain, melainkan merupakan hal yang sama, yaitu sama-sama melewati batas yang ditentukan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang melewati batasan Allah sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri‘ (QS. Ath Thalaq: 1).

Selain itu juga, qadha shalat adalah pewajiban dalam syariat. Dan setiap yang diwajibkan dalam syariat tidak boleh disandarkan kepada selain Allah melalui perantara lisan Rasulnya” (Al Muhalla, 2/10, Asy Syamilah).

Baca juga fatwa Syaikh Shalih Al Fauzan dalam artikel “Fatwa Ulama: Dahulu Tidak Pernah Shalat, Apa Yang Harus Dilakukan?“.

Cara mengqadha shalat
Dari sisi waktu, mengqadha shalat harus dilakukan segera ketika teringat dari lupa atau tersadar dari hilang akalnya. Tidak boleh ditunda-tunda, harus segera dikerjakan sesegera mungkin. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ู…ู† ู†ุงู…َ ุนู† ุตู„ุงุฉٍ ูู„ูŠุตู„ِّู‡ุง ุฅุฐุง ุฐَูƒุฑَู‡ุง

“barangsiapa yang terlewat shalat karena tidur atau karena lupa, maka ia wajib shalat ketika ingat” (HR. Al Bazzar 13/21, shahih).

Bagaimana jika shalat yang terlewat lebih dari satu? Apakah diqadha sekaligus atau setiap shalat di qadha pada waktunya, semisal shalat zhuhur diqadha pada waktu zhuhur, shalat ashar pada waktu ashar, dst.? Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab pertanyaan ini:

ูŠุตู„ูŠู‡ุง ุฌู…ูŠุนุง ู„ุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„ู…ุง ูุงุชุชู‡ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนุตุฑ ููŠ ุบุฒูˆุฉ ุฎู†ุฏู‚ ู‚ุถู‰ู‡ุง ู‚ุจู„ ุงู„ู…ุบุฑุจ ูˆู‡ูƒุฐุง ูŠุฌุจ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุงู†ุณุงู† ูุงุชุชู‡ ุงู„ุตู„ูˆุงุช ุงู† ูŠุตู„ูŠู‡ุง ุฌู…ูŠุนุง ูˆ ู„ุง ูŠุฃุฎุฑู‡ุง

“dikerjakan semuanya sekaligus. karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika terlewat beberapa shalat pada saat perang Khandaq beliau mengerjakan semuanya sebelum Maghrib. Dan demikianlah yang semestinya dilakukan setiap orang yang terlewat shalatnya, yaitu mengerjakan semuanya sekaligus tanpa menundanya” (Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=tMEnMeqXFbw).

Dalam hadits di atas juga Nabi mengatakan ูู„ูŠุตู„ู‡ุง  dhamir ู‡ุง mengacu pada kata ุตู„ุงุฉ sebelumnya. Ini menunjukkan shalat yang dikerjakan dalam rangka qadha sama persis seperti shalat yang ditinggalkan dalam hal sifat dan tata caranya. Misalnya, jika seseorang terluput shalat shubuh karena tertidur, maka ia wajib mengqadha dengan mengerjakan shalat yang sama dengan shalat shubuh.

Dan tidak ada lafal niat khusus yang perlu diucapkan dalam mengqadha shalat. Niat adalah perbuatan hati, tidak perlu dilafalkan. Andaikan niat mengqadha shalat perlu dilafalkan, maka Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah mengajarkannya kepada kita. Lebih luas mengenai pelafalan niat, silakan simak artikel “Polemik Pelafalan Niat Dalam Ibadah“.

Dengan demikian, ketika seseorang baru teringat bahwa ia telah melewatkan shalat, atau baru terbangun dari tidur sedangkan waktu shalat sudah terlewat, yang ia lakukan adalah segera berwudhu, lalu mencari tempat shalat yang bersih dan suci, menghadap kiblat kemudian mengerjakan shalat dengan tata cara dan sifat yang persis sebagaimana shalat yang ia tinggalkan. Jika shalat yang ditinggalkan lebih dari satu, maka setelah salam, ia kembali berdiri untuk meng-qadha shalat selanjutnya.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wabillahi at taufiq was sadaad.

*

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

๐ŸŒบ๐Ÿ’ ๐ŸŒบ ANAK YANG DEKAT DENGAN ALLAH

# Yang Lebih Tulus Mendoakan Adalah Anakmu

Yang menyayangi-mu sejatinya
Orang tua, saudara, istri/suami dan anak-anakmu
Merekalah pahit-manis berbagi
Semua saling tulus mendoakan

Jika kau renungkan
Umur orangtua tidaklah lebih panjang darimu
Saudara-mu bisa jadi tersibukkan oleh keluarganya
Pasanganmu bisa jadi nyawanya mendahulu
Terlebih ia menikah lagi

Tersisalah anak-anakmu
Dalam gelapnya kubur
Penantian panjang hari kebangkitan
Harapanmu
Harta dan kesuksesan anakmu
Ataukah doa mereka

Saudaraku
Didiklah, perbanyaklah dan berdoalah
Anak-anak yang shalih
Bermanfaat bagi manusia dan berakhlak

ุฑَุจِّ ู‡َุจْ ู„ِูŠ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ

“Rabbi hablii minash shaalihiin”

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku anak-anak yang shalih”. (Ash Shaffaat: 100)

Pernahkah anda mendengar
Orang yang terheran-heran di Akhirat?
Terheran dari mana datangnya
Kedudukannya yang tinggi ini
Padahal ia sadar di dunia
Amal tidaklah banyak

Datanglah jawabannya:
“Karena Istigfar anak-anakmu”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Sungguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga lalu dia pun bertanya, ‘Dari mana ini?’ Dijawab, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’”
[Sunan Ibnu Majah ]

Penyusun: Raehanul Bahraen

Jumat, 01 Februari 2019

๐Ÿ€ Rahasia di Balik Sakit ๐Ÿ€


Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.


Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

*

Penulis: Abu Hasan Putra